Salmun Aprianus Tefnai
22 Mar 2026
34x dilihat
Setiap tahun, kalender liturgi menggiring kita memasuki Pekan Suci layaknya rombongan turis spiritual yang sedang mengunjungi museum penderitaan. Kita datang dengan pakaian terbaik, duduk manis di bangku gereja berpendingin ruangan, mendengarkan lantunan paduan suara yang melodius, lalu pulang dengan perasaan saleh seolah-olah kita telah melunasi hutang moral kita kepada Sang Pencipta. Kita meromantisasi Paskah menjadi sekadar ritual tahunan yang steril, puitis, dan aman.
Namun, mari kita berani jujur dan menelanjangi dada sejenak. Jika kita benar-benar mengupas sejarahnya, Pekan Suci sama sekali bukanlah kisah yang steril. Delapan hari menjelang penyaliban adalah sebuah teater absurditas yang berlumuran debu politik, intrik kekuasaan, pengkhianatan sahabat, dan kebangkrutan moral peradaban.
Kisah Sengsara sejatinya adalah cermin retak yang disodorkan tepat ke depan wajah kita hari ini. Di cermin itu, kita dipaksa melihat pantulan buruk rupa dari masyarakat kita sendiri: tentang bagaimana kita mengelola kekuasaan, bagaimana kita memperlakukan kaum marginal di akar rumput, dan seberapa tulus harmoni serta toleransi yang selama ini kita banggakan.
Selama sepekan ke depan, melalui seri tulisan harian ini, kita tidak akan membaca narasi Paskah sebagai sekadar penonton sejarah. Kita akan membedahnya sebagai pisau bedah filosofis untuk menguliti kemunafikan kita sendiri melalui rangkaian refleksi berikut :
Seri tulisan ini ditulis bukan untuk meninabobokan nurani kita dengan khotbah manis. Tulisan-tulisan ini dirancang untuk mengganggu zona nyaman kita. Sebab, kepemimpinan sejati dan iman yang hidup tidak pernah diukur dari seberapa fasih kita melafalkan ayat suci di atas mimbar yang tinggi, melainkan dari seberapa dalam kita berani turun, berlumuran lumpur realitas, dan berdiri bersama mereka yang disingkirkan oleh sistem.
Mari berjalan bersama menyusuri Jalan Salib selama sepekan ke depan. Siapkan batin kita, tanggalkan topeng kosmetik kesalehan kita, dan mari kita lihat: di barisan manakah sebenarnya kita berdiri saat Sang Kebenaran disalibkan oleh dunia?