OUR TOP Program

Berita Menelanjangi Nurani di Sepanjang Jalan Salib

Menelanjangi Nurani di Sepanjang Jalan Salib

Salmun Aprianus Tefnai 22 Mar 2026 34x dilihat
desacloud3770img20260323-mata-air-prolog-paskah-sepekan.jpg

SERIES ARTIKEL PEKAN SUCI PASKAH 2026

Setiap tahun, kalender liturgi menggiring kita memasuki Pekan Suci layaknya rombongan turis spiritual yang sedang mengunjungi museum penderitaan. Kita datang dengan pakaian terbaik, duduk manis di bangku gereja berpendingin ruangan, mendengarkan lantunan paduan suara yang melodius, lalu pulang dengan perasaan saleh seolah-olah kita telah melunasi hutang moral kita kepada Sang Pencipta. Kita meromantisasi Paskah menjadi sekadar ritual tahunan yang steril, puitis, dan aman.

Namun, mari kita berani jujur dan menelanjangi dada sejenak. Jika kita benar-benar mengupas sejarahnya, Pekan Suci sama sekali bukanlah kisah yang steril. Delapan hari menjelang penyaliban adalah sebuah teater absurditas yang berlumuran debu politik, intrik kekuasaan, pengkhianatan sahabat, dan kebangkrutan moral peradaban.

Kisah Sengsara sejatinya adalah cermin retak yang disodorkan tepat ke depan wajah kita hari ini. Di cermin itu, kita dipaksa melihat pantulan buruk rupa dari masyarakat kita sendiri: tentang bagaimana kita mengelola kekuasaan, bagaimana kita memperlakukan kaum marginal di akar rumput, dan seberapa tulus harmoni serta toleransi yang selama ini kita banggakan.

Selama sepekan ke depan, melalui seri tulisan harian ini, kita tidak akan membaca narasi Paskah sebagai sekadar penonton sejarah. Kita akan membedahnya sebagai pisau bedah filosofis untuk menguliti kemunafikan kita sendiri melalui rangkaian refleksi berikut :


  • Minggu Palma: Hosana yang Munafik: Terjebak dalam Ilusi Massa dan Populisme Murahan.
  • Senin Suci: Cambuk di Rumah Tuhan: Ketika Agama Menjadi Industri dan Alat Transaksi.
  • Selasa Suci: Pohon Ara yang Mandul: Kosmetik Kesalehan di Balik Kebobrokan Birokrasi.
  • Rabu Suci: Kalkulator Yudas: Menghitung Harga Sebuah Kesetiaan Demi Tiga Puluh Keping Perak.
  • Kamis Putih: Cinta yang Membasuh: Belajar Rendah Hati dan Menanggalkan Jubah Keangkuhan.
  • Jumat Agung: Keadilan yang Disalibkan Suara Terbanyak: Tragedi Demokrasi yang Buta.
  • Sabtu Suci: Kehampaan Kosmis: Belajar Diam Saat Tuhan Seolah Mati dalam Kesunyian.
  • Minggu Paskah: Batu yang Terguling: Menertawakan Absurditas Kematian dan Kemenangan Kebenaran.

Seri tulisan ini ditulis bukan untuk meninabobokan nurani kita dengan khotbah manis. Tulisan-tulisan ini dirancang untuk mengganggu zona nyaman kita. Sebab, kepemimpinan sejati dan iman yang hidup tidak pernah diukur dari seberapa fasih kita melafalkan ayat suci di atas mimbar yang tinggi, melainkan dari seberapa dalam kita berani turun, berlumuran lumpur realitas, dan berdiri bersama mereka yang disingkirkan oleh sistem.

Mari berjalan bersama menyusuri Jalan Salib selama sepekan ke depan. Siapkan batin kita, tanggalkan topeng kosmetik kesalehan kita, dan mari kita lihat: di barisan manakah sebenarnya kita berdiri saat Sang Kebenaran disalibkan oleh dunia?
 


Penulis : Desahan Rimba

Desacloud berkomitmen menjadi mitra strategis dalam percepatan transformasi Desa Digital di seluruh Indonesia.

Alvaro Kadja Founder Desacloud
Beranda Pengaduan Berita Belanja