OUR TOP Program

Berita Menenun Masa Depan Desa Mata Air yang Mandiri dan Berdaulat

Menenun Masa Depan Desa Mata Air yang Mandiri dan Berdaulat

Salmun Aprianus Tefnai 01 Feb 2026 60x dilihat
desacloud102img20260201-Nawa-Asta-Mata-Air.png

Dari Akar Nawa Cita ke Buah Asta Cita

Desa selalu menjadi ruang paling jujur untuk membaca arah kebijakan sebuah rezim. Di tanah desa, janji pembangunan diuji secara nyata: apakah negara benar-benar hadir untuk melayani, atau sekadar berganti slogan politik di setiap pergantian kepemimpinan.

1. Nawa Cita: Menanam Akar dan Martabat

Melalui visi Nawa Cita, Presiden Joko Widodo melakukan pergeseran paradigma besar. Desa ditempatkan sebagai subjek yang berdaulat melalui Dana Desa dan penguatan musyawarah desa (Musdes). Nawa Cita telah berhasil membangun fondasi, struktur, dan kesadaran partisipasi warga sebagai "akar" pembangunan.

2. Asta Cita: Memanen Hasil dan Ketahanan

Kini, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Asta Cita hadir membawa perspektif akselerasi. Fokusnya adalah produktivitas: menjadikan desa sebagai basis ketahanan nasional melalui swasembada pangan, energi, dan hilirisasi produk desa.


Pilar Utama Penggerak Asta Cita di Desa

Untuk mewujudkan visi Asta Cita, diperlukan sinergi yang solid antara pengambil kebijakan, pelaksana teknis, dan motor penggerak ekonomi:

A. Kepemimpinan dan Tata Kelola (Navigasi)

  1. Kepala Desa: Pemimpin Visioner & Pelindung Musyawarah Kepala Desa bukan sekadar administrator, melainkan pemimpin yang harus mampu menerjemahkan visi nasional Asta Cita ke dalam kearifan lokal. Ia berperan memastikan bahwa target produktivitas tidak membungkam suara warga, serta menjadi pelindung bagi BUMDes dan Koperasi agar tetap berjalan di rel yang benar.

  2. Perangkat Desa: Pelaksana Teknis yang Akuntabel Perangkat desa adalah tulang punggung administrasi. Mereka memastikan Dana Desa dikelola secara transparan sebagai modal strategis, menyusun regulasi desa (Perdes) yang pro-ekonomi kerakyatan, serta memfasilitasi kebutuhan administratif KDMP dan lembaga desa lainnya.

B. Penggerak Ekonomi & Inovasi (Mesin)

  1. BUMDes: "Lokomotif bisnis" milik desa yang bertugas mengelola hilirisasi produk dan akses pasar luas.

  2. Koperasi Desa Merah Putih: "Benteng ekonomi warga" yang menyediakan modal, pupuk, dan menjamin harga adil bagi hasil bumi petani secara gotong royong.

  3. Karang Taruna & Pemuda Desa: "Motor inovasi" yang melakukan modernisasi sektor tradisional melalui kewirausahaan dan teknologi.

  4. KDMP (Kader Digital Masyarakat Pembangunan): "Arsitek teknologi" yang menjembatani transformasi digital agar desa menjadi cerdas (Smart Village) dan berbasis data presisi.


Sinergi Strategis: Kolaborasi BUMDes dan Koperasi Merah Putih

Dalam kerangka Asta Cita, kedua lembaga ini harus berduet dalam rantai nilai:

  • Hulu (Koperasi): Mengorganisir warga petani/pengrajin, menyediakan modal, dan mengumpulkan hasil panen.

  • Hilir (BUMDes): Mengolah hasil dari koperasi menjadi produk bernilai tambah (hilirisasi) dan memasarkannya secara profesional.

  • Payung Hukum (Pemdes): Kepala Desa dan Perangkat Desa memastikan regulasi kerja sama ini adil dan menguntungkan seluruh masyarakat.


Kesimpulan: Kesinambungan yang Bermartabat

Nawa Cita dan Asta Cita adalah satu garis kesinambungan. Nawa Cita telah membuka pintu kedaulatan, sementara Asta Cita adalah jembatan menuju kemandirian ekonomi.

Pembangunan yang berhasil bukan hanya soal angka pertumbuhan atau kecanggihan digital, melainkan tentang seberapa kuat Kepala Desa memimpin, seberapa transparan Perangkat Desa melayani, dan seberapa kompak BUMDes, Koperasi, Pemuda, serta Kader Digital bekerja sama. Desa adalah rumah, dan kesuksesan pembangunan adalah saat rumah tersebut mampu memberi kemakmuran dan harapan nyata bagi setiap warganya.

Oleh : Desahan Rimba

Desacloud berkomitmen menjadi mitra strategis dalam percepatan transformasi Desa Digital di seluruh Indonesia.

Alvaro Kadja Founder Desacloud
Beranda Pengaduan Berita Belanja