Salmun Aprianus Tefnai
03 Apr 2026
19x dilihat
Kita hidup di abad yang berlari terlalu cepat. Di atas etalase peradaban yang memuja kemudaan, kecepatan, dan produktivitas, manusia yang melambat otomatis dianggap sebagai residu. Kita membangun gedung-gedung pencakar langit yang angkuh menusuk awan, memuja teknologi yang mengklaim mampu menghubungkan ujung dunia, namun ironisnya, kita menjadi buta pada seonggok nestapa yang meringkuk kedinginan di teras-teras pertokoan dan sudut-sudut jalan.
Mereka adalah para lansia terlantar—monumen bernapas yang dilupakan oleh waktu dan dibuang oleh anak kandung zaman.
Secara filosofis, masyarakat modern mengidap amnesia kolektif yang akut. Kita lupa bahwa punggung-punggung yang kini melengkung rapuh itu adalah fondasi yang menyangga kehidupan kita hari ini. Tangan-tangan yang kini gemetar dan dipenuhi bintik penuaan itu pernah memeras keringat, membangun peradaban, dan membesarkan generasi. Namun, apa balasan dari "kemajuan" ini? Sebuah pengasingan yang sunyi. Mereka tidak mati sekadar karena usia; mereka mati perlahan karena rasa sepi yang membekukan dan pengabaian yang sistematis.
Jika kita berani menatap cermin retak kemanusiaan kita, apa yang sebenarnya mereka butuhkan?
Bukan sekadar uang receh sisa kembalian kopi kekinian yang kita lemparkan dari kaca jendela mobil yang tertutup rapat. Mereka membutuhkan hak dasar yang dirampas oleh ketidakpedulian: sesuap nasi yang tidak harus ditukar dengan menelan harga diri, selembar selimut untuk menghalau angin malam yang menusuk tulang rentan, dan akses kesehatan yang tidak mensyaratkan birokrasi berbelit bagi mereka yang bahkan sudah lupa tanggal lahirnya sendiri. Lebih dari sekadar sandang dan pangan, mereka lapar akan pengakuan eksistensial. Mereka butuh sepasang telinga yang sudi mendengar hikayat masa lalu, dan sepasang mata yang menatap mereka bukan sebagai beban demografi, melainkan sebagai manusia seutuhnya.
Di sinilah ujian sesungguhnya bagi sebuah komunitas. Di tengah absurditas zaman yang mengagungkan tumpukan materi dan birokrasi yang dingin ini, oase kemanusiaan belumlah sepenuhnya mengering. Kita melihat pantulan harapan itu menyala dalam keteladanan yang sunyi di tengah denyut kehidupan Desa Mata Air. Napas kepedulian itu dihidupkan oleh sosok pemimpin humanis, Bapak Kepala Desa Elia Luluporo.
Beliau sering menggaungkan bahwa kemajuan sebuah wilayah tidak diukur dari seberapa megah infrastrukturnya, melainkan dari seberapa erat warga saling menggenggam tangan mereka yang paling lemah. Membiarkan satu saja lansia terasing dan kelaparan adalah sebuah kegagalan moral yang paling memalukan bagi institusi sosial manapun.
Bapak Elia tidak datang dengan protokoler kaku, perencanaan yang diatur rapi oleh ajudan, atau iring-iringan pembawa janji bernilai miliaran rupiah. Kerap kali, langkahnya menyusuri jalan setapak secara tiba-tiba, menembus sunyi menuju pondok-pondok reot yang tak pernah tersentuh radar bantuan sosial. Ia hadir bukan sekadar dengan kapasitas formal seorang penguasa desa, melainkan merengkuh mereka murni sebagai seorang anak yang rindu mendekap orang tuanya. Saat telinganya menangkap kabar ada lansia yang merintih kesakitan atau terhimpit kesusahan, ia datang membawa kesederhanaan, seadanya uluran tangan, dan seringkali, air mata yang luruh menyaksikan kepahitan hidup warganya.
Humanisme yang mengakar dalam nadinya tidak berhenti pada kaum lansia yang senja usianya. Saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas pun dirangkulnya layaknya keluarga sedarah. Ia sudi menanggalkan jabatannya untuk duduk di pelataran pondok mereka, sekadar meminjamkan telinga untuk bercerita. Ia menyisihkan lembaran rupiah dari sakunya sendiri, atau berlari mengurus karut-marut administrasi kependudukan agar eksistensi mereka diakui oleh negara.
Bahkan, bagi basodara yang terlahir normal namun tercekik oleh ketidakmampuan—yang sekadar untuk makan esok hari pun tak tahu harus mencari ke mana, atau yang kebingungan tak punya uang ojek—tangannya selalu sedia terulur dari segala keterbatasannya. Ia memberi bukan dari kelimpahan sisa, melainkan dari kedalaman nurani.
Melihat laku hidup semacam ini, nurani kita serasa diketuk keras. Bukankah dedikasi tanpa pamrih ini adalah manifestasi nyata dari perumpamaan abadi tentang Orang Samaria yang Baik Hati? Bukankah ketulusannya memberi dari dalam kekurangan memantulkan kemuliaan sang Janda Miskin yang mempersembahkan dua peser terakhirnya di Bait Allah?
Menelantarkan mereka yang lemah sama dengan menertawakan masa depan kita sendiri. Sebab pada akhirnya, waktu adalah tiran yang paling adil. Keriput itu akan tiba di wajah kita, langkah yang gontai itu kelak menjadi milik kita. Teladan telah ditunjukkan, kini giliran kita bertanya pada diri sendiri: ketika senjakala itu tiba, apakah kita ingin diperlakukan layaknya residu peradaban, atau dirangkul kembali dalam kehangatan keluarga besar manusia?
Semoga semesta senantiasa menjaga langkah pemimpin-pemimpin yang sudi merengkuh kaum papa. Biarlah Bapak Elia terberkati selalu dalam hidup dan kehidupan ini, terus menjadi mercusuar yang mengingatkan kita bahwa puncak tertinggi dari menjadi manusia, adalah dengan memanusiakan manusia lainnya.
"Ukuran pasti dari sebuah peradaban adalah bagaimana masyarakatnya merawat anggota yang paling tak berdaya." — Pearl S. Buck