OUR TOP Program

Berita "Tanah yang Diam, Rumah yang Teduh"

"Tanah yang Diam, Rumah yang Teduh"

Salmun Aprianus Tefnai 31 Des 2025 92x dilihat
desacloud142img20251231-Ayah dan Ibu.png

Refleksi Akhir Tahun

Detik - Detik terus Berlalu mendekati berakhirnya tahun, Di penghujung tahun ini, saat kembang api siap dinyalakan dan lembaran baru mulai ditulisi, mari sejenak kita tundukkan kepala. Mari kita menunduk dan menoleh ke arah dua sosok yang seringkali kita anggap "selalu ada", padahal waktu mereka kian menipis: Ayah dan Ibu.

Filosofi Tanah dan Rumah

Ayah adalah simbol kehormatan, ia selayaknya Tanah. Tanah itu diam. Ia berada di bawah, seringkali diinjak, kotor, dan tak banyak bicara. Namun, sadarkah kita? Tanpa tanah yang kokoh, tidak akan ada bangunan yang bisa berdiri. Ayah menanggung beban berat kehidupan dalam diamnya, menopang fondasi keluarga agar kita bisa berdiri tegak. Ia mungkin tak pandai memeluk dengan tangan, tapi ia memeluk dengan keringat dan kerja keras.

Ibu adalah lambang kasih sayang, ia selayaknya Rumah. Rumah adalah tempat kita berteduh dari hujan dan panas. Di sana ada kehangatan, ada aroma masakan, ada tempat untuk merebahkan lelah. Ibu adalah dinding yang melindungi dan atap yang menaungi. Kasih sayangnya terlihat, terdengar, dan terasa nyata setiap hari.

Bisakah Kita Memilih?

Seringkali muncul pertanyaan di hati yang naif: "Bisakah kita hanya menyayangi Ibu namun mengabaikan Ayah?" Atau sebaliknya?

Bayangkan sebuah Rumah yang megah dan indah, namun berdiri di atas jurang tanpa Tanah yang kuat. Rumah itu akan runtuh seketika. Menyayangi Ibu (Rumah) tapi tidak menghormati Ayah (Tanah) adalah kesia-siaan. Kehangatan ibu tak akan bertahan lama jika kehormatan dan penopang nafkah dari ayah runtuh karena kita abaikan.

Sebaliknya, bayangkan hamparan Tanah yang luas tanpa ada bangunan di atasnya. Ia gersang, sepi, dan tak menjadi tempat pulang bagi siapa pun.

Ayah dan Ibu adalah satu paket kehidupan. Ayah memberikan kita tempat untuk berpijak (hidup), dan Ibu memberikan kita tempat untuk pulang (hati). Mengabaikan salah satunya berarti membuat hidup kita pincang.

Sebuah Perenungan Waktu

Tutuplah matamu sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Hari ini, detik ini, bersyukurlah. Lihatlah ke ruang tengah, mungkin Ayah sedang duduk menonton TV, atau Ibu sedang sibuk di dapur. Suara batuk Ayah atau omelan kecil Ibu mungkin terdengar biasa saja, bahkan kadang mengganggu.

Namun, bayangkan skenario ini:

Tahun depan, di tanggal yang sama, jam yang sama. Kamu pulang ke rumah untuk merayakan tahun baru. Tapi kali ini, Rumah itu sunyi. Tidak ada lagi aroma masakan Ibu. Tidak ada lagi sosok Ayah yang duduk diam di kursi kesayangannya.

Salah satu dari mereka—atau bahkan keduanya—telah pergi. Bukan pergi ke luar kota, tapi pergi ke tempat di mana panggilan teleponmu tidak akan pernah tersambung lagi, Tidak ada lagi suara Ayah yang menanyakan kabarmu. Tidak ada lagi aroma masakan Ibu yang menyambutmu.

Kursi yang biasa mereka duduki itu kosong. Kamar mereka gelap dan dingin. Tanah itu kini telah menimbun jasad mereka berdua. Rumah itu kini kosong tanpa nyawa.

Saat itu terjadi, air mata darah pun tidak akan bisa memutar waktu barang satu detik saja. Uangmu yang menumpuk tidak akan bisa membeli satu kali lagi kesempatan untuk mencium tangan mereka karena kehormatan (Tanah) itu telah menyatu kembali dengan bumi, dan kasih sayang (Rumah) itu telah terkunci pintunya selamanya.

Apakah baru saat itu kita akan sadar? Apakah harus menunggu nisan tertancap baru kita menangis dan memohon ampun? Apakah harus menunggu kursi itu kosong baru kita sadar betapa besarnya ruang yang mereka isi di hati kita?

Tangis penyesalan adalah tangis yang paling menyakitkan, karena ia tidak mengubah apa pun. Jangan biarkan tahun ini berlalu dengan ego yang masih tinggi. Peluklah Tanah yang menopangmu, dan ciumlah Rumah yang memelukmu. Selagi mereka masih ada.


Kutipan Cinta untuk Ayah dan Ibu

"Ibu adalah tempat aku belajar tentang cinta, dan Ayah adalah tempat aku belajar tentang harga diri. Tanpa Ibu aku kering, tanpa Ayah aku roboh. Mencintai keduanya adalah satu-satunya cara untuk berdiri tegak."

"Jangan menunggu sampai 'Tanah' itu menjadi makam dan 'Rumah' itu menjadi kosong. Hormatilah Ayah saat ia masih kuat berdiri, dan sayangilah Ibu saat ia masih bisa memelukmu. Karena waktu tidak pernah berjanji untuk menunggu kita siap."

"Cinta Ibu itu menenangkan seperti teduhnya atap rumah. Cinta Ayah itu menguatkan seperti kokohnya pijakan tanah. Kita butuh keduanya untuk selamat dari badai kehidupan."

Pesan Singkat Akhir Tahun "Tuhan, terima kasih masih meminjamkan Malaikat Pelindung "Ayah dan Ibu" padaku di tahun ini. Tolong ajarkan aku untuk tidak menyia-nyiakan waktu, sebelum Engkau mengambil kembali 'Rumah' dan 'Tanah' kehidupanku."

Pemerintah Desa Mata Air. 31 Desember 2025 


Desacloud berkomitmen menjadi mitra strategis dalam percepatan transformasi Desa Digital di seluruh Indonesia.

Alvaro Kadja Founder Desacloud
Beranda Pengaduan Berita Belanja