Salmun Aprianus Tefnai
31 Jan 2026
79x dilihat
Mata Air–Dalam kurun waktu tahun 2024 hingga pertengahan tahun ini, wilayah pesisir Desa Mata Air dan sekitarnya menjadi saksi serangkaian peristiwa alam yang langka. Masyarakat dikejutkan oleh terdamparnya beberapa biota laut berukuran besar (megafauna) di garis pantai kita.
Tercatat, penemuan seekor Dugong mati di Pantai Panmuti (Desa Noelbaki), disusul dengan penemuan Ikan Marlin sepanjang kurang lebih 3 meter di Pantai Kelapa Tinggi. Peristiwa terbaru yang menjadi perhatian adalah terdamparnya paus jenis False Killer Whale (Paus Pembunuh Palsu) dengan panjang 1,58 meter di lokasi konservasi Pantai Kelapa Tinggi.
Fenomena ini bukan sekadar kejadian biasa, melainkan membawa pesan penting dari alam mengenai kondisi laut kita saat ini.
Sebagai langkah edukasi publik yang disusun bersama Kelompok Konservasi "Cemara", berikut adalah profil singkat spesies tersebut:
Dugong (Dugong dugon): Sering disebut "sapi laut". Hewan ini adalah mamalia yang menyusui dan hidup di padang lamun. Keberadaannya menandakan bahwa perairan kita subur, namun mereka sangat rentan terjerat jaring atau terjebak di perairan dangkal saat air surut.
Ikan Marlin (Istiophoridae): Predator perenang cepat yang biasanya hidup di laut dalam (pelagis). Kehadirannya di pinggir pantai sangat tidak lazim dan mengindikasikan adanya gangguan di habitat aslinya.
Paus Pembunuh Palsu (False Killer Whale): Merupakan keluarga lumba-lumba samudra. Ukuran 1,58 meter yang ditemukan mengindikasikan individu ini masih anakan/remaja, yang kemungkinan besar terpisah dari kawanannya akibat cuaca buruk atau gangguan sonar.
Berdasarkan analisis kondisi lingkungan terkini, fenomena ini berkaitan erat dengan perubahan iklim dan dinamika laut:
Kenaikan Suhu Permukaan Laut (Marine Heatwaves): Pemanasan suhu air laut membuat kadar oksigen menipis dan mengubah jalur migrasi ikan-ikan kecil. Predator besar seperti Marlin dan Paus terpaksa mengikuti mangsanya hingga masuk ke zona berbahaya di perairan dangkal.
Anomali Cuaca Ekstrem: Perubahan musim yang tidak menentu menyebabkan arus bawah laut menjadi sangat kuat. Hal ini dapat mengacaukan sistem navigasi alami mamalia laut, membuat mereka disorientasi (bingung) dan akhirnya terhempas ke pantai.
Kekeruhan Air: Curah hujan tinggi yang membawa lumpur ke laut dapat mematikan pandangan dan merusak padang lamun, memaksa Dugong mencari makan ke area yang terlalu pinggir dan berisiko terdampar.
Masyarakat mungkin bertanya, apakah ada hubungannya dengan banyaknya penyu di wilayah kita?
Jawabannya adalah ada, dalam konteks kekayaan ekosistem. Pantai Kelapa Tinggi yang dijaga oleh kelompok pemerhati lingkungan "Cemara" merupakan habitat yang sehat. Kondisi pantai yang baik untuk penyu bertelur biasanya juga berarti perairan di depannya kaya akan makanan (ubur-ubur, ikan kecil, dan lamun).
Kekayaan nutrisi inilah yang "mengundang" berbagai biota laut melintas. Namun, dengan kondisi cuaca ekstrem saat ini, wilayah yang subur ini juga bisa menjadi "perangkap" bagi hewan-hewan besar jika air surut secara tiba-tiba.
Menyikapi tanda-tanda alam ini, Pemerintah Desa Mata Air mengeluarkan himbauan tegas kepada seluruh warga, khususnya di area Pantai Sulamanda dan Pantai Kelapa Tinggi:
JAGA HUTAN BAKAU (MANGROVE) Dilarang keras menebang pohon bakau atau membuang sampah plastik di area akarnya. Bakau adalah benteng terakhir yang menyaring lumpur dan menjadi tempat berlindung biota laut.
JANGAN DIKONSUMSI Jika menemukan mamalia laut (Paus, Lumba-lumba, Dugong) yang mati terdampar, jangan mengambil dagingnya untuk dimakan. Bangkai hewan terdampar seringkali membawa penyakit atau bakteri yang berbahaya bagi manusia.
LAPORKAN SEGERA Segera hubungi Pemerintah Desa atau anggota Kelompok Konservasi "Cemara" jika melihat kejadian serupa agar dapat ditangani dengan prosedur yang benar (penguburan atau penyelamatan).
Alam telah berbicara. Mari kita jawab dengan tindakan nyata menjaga lingkungan.
"Jaga Laut, Laut Jaga Kita."
(Artikel ini diterbitkan oleh Pemerintah Desa Mata Air sebagai risalah ilmiah dan panduan edukasi masyarakat)