Salmun Aprianus Tefnai
28 Feb 2026
45x dilihat
Wahai penduduk Desa Mata Air, jiwa-jiwa yang terjalin dalam detak jantung tanah ini...
Tinta yang menari di atas lembaran ini mengalir dari mata air duka yang hening. Kami merangkai kata-kata ini bukan karena sayap pengabdian kami telah patah, bukan pula karena perapian peduli kami telah padam. Melainkan karena kebenaran, betapapun pahitnya, harus ditegakkan telanjang di hadapan kalian yang kami kasihi.
Musim telah berganti, dan awan yang dahulu mencurahkan hujan kelimpahan kini ditarik oleh angin takdir ke langit yang lebih jauh. Kami harus menyingkap tirai kenyataan: tangan kami kini tak lagi sepanjang dahulu untuk menaburkan benih-benih pelayanan.
"Mata air semesta yang dititipkan melalui tangan kami—Dana Desa yang menjadi urat nadi pergerakan kita—kini menyusut, tertinggal hanya sepertiga dari aliran musim lalu."
Sementara itu, harapan kalian tetap menjulang rimbun bagai pohon aras yang agung. Di situlah dada kami terimpit karang nestapa, sebab dahaga kami untuk melayani jauh lebih dalam daripada palung sumur yang kami miliki hari ini.
Kami tak lagi berdaya memahat bebatuan menjadi jalan yang menyatukan jejak-jejak langkah kalian. Kami tak lagi mampu membelah tanah untuk menyembuhkan urat-urat irigasi yang terluka, padahal kami tahu persis, di sanalah napas persawahan dan panen kalian berdenyut. Tangan ini terasa kosong, tak mampu lagi menyuapkan gizi yang cukup di balai-balai posyandu bagi tunas-tunas muda kita. Kami pun tak lagi sanggup membentangkan jaring-jaring udara tanpa kasatmata yang dahulu menjadi jendela pengetahuan bagi anak-anak kita.
Lumbung bantuan kehidupan tak lagi melimpah untuk dibagikan seluas bentangan lembah, dan kelak, ketika badai datang, perisai yang kami bentangkan takkan lagi selebar dan sekokoh dahulu.
Bahkan, tatkala tiba masanya jaminan penyembuhan (KIS PBI) terhenti karena raga yang belum disentuh perihnya sakit tak lagi dapat serta-merta mengaktifkannya kembali, tangan kami tak berdaya memaksa takdir. Ketahuilah, bilamana pintu panti sosial menutup kembalinya jaminan tersebut, lembaran nasib itu akan dikembalikan ke pangkuan desa. Di sanalah, dengan sisa daya yang ada, kami akan kembali menenun usulan, menimbang ulang derajat kelayakan (desil) demi memastikan bahwa kalian yang sesungguhnya masih berhak merengkuh belas kasih bantuan sosial, tidak akan kami biarkan lapar akan keadilan.
Semua ketidakberdayaan ini, wahai wargaku, bukanlah anak kandung dari ketidakpedulian. Banyak keinginan suci terpaksa membeku dalam kata "belum bisa", bukan karena kami enggan melangkah, melainkan karena bumi pijakan kami tengah menyempit.
"Maka melalui lembaran terbuka ini, tanpa jubah keangkuhan, tanpa topeng alasan yang dihias madu, kami menundukkan kepala di hadapan kalian: Kami memohon maaf."
Maafkanlah keterbatasan rengkuhan kami. Namun dengarlah, nyanyian jiwa kami tetap sama. Keringnya pundi-pundi takkan pernah mampu mengeringkan lautan cinta kami pada desa ini. Tanggung jawab kami tetap menyala, utuh, dan tegak.
Kami memohon kepada jiwa-jiwa agung kalian, jangan biarkan surutnya perak dan emas memutus rantai emas persaudaraan kita. Sebab ketika koin-koin di lumbung berkurang, yang tak boleh ikut meranggas adalah keringat yang menyatu, bahu yang saling memikul, dan keyakinan teguh bahwa mahligai Desa Mata Air ini dibangun oleh himpunan cinta seluruh warganya.
Terima kasih atas keluasan hati yang melampaui batas-batas lembah, atas kesabaran yang lebih kokoh dari bukit-bukit, dan atas doa-doa yang merajut langit. Semoga Sang Pencipta segala musim mengaruniakan kita akar yang kuat untuk bertahan hari ini, dan membukakan jalan cahaya yang lebih benderang di esok pagi.
Hormat kami,
Pemerintah Desa Mata Air