Salmun Aprianus Tefnai
31 Jan 2026
85x dilihat
Mata Air–Warga pesisir Pantai Kelapa Tinggi, Desa Mata Air, dikejutkan dengan penemuan seekor mamalia laut yang terdampar dalam kondisi mati pada hari ini, Sabtu (31/1/2026) sekitar pukul 14.00 WITA.
Setelah melalui proses identifikasi oleh pihak berwenang, mamalia tersebut dipastikan merupakan individu Paus Pembunuh Palsu (False Killer Whale) berjenis kelamin betina dengan panjang tubuh mencapai 1,58 meter.
Bangkai paus ini pertama kali ditemukan oleh seorang warga setempat, Saudara Oce Ndun, yang saat itu sedang berada di sekitar pantai. Menyadari adanya hal yang tidak biasa, ia segera melaporkan temuan tersebut kepada pengurus lingkungan setempat.
Merespons laporan warga, Bapak Osias Dethan selaku Ketua RT 08 langsung bergerak cepat dengan melaporkan kejadian ini kepada Kepala Desa Mata Air, yang kemudian diteruskan secara resmi kepada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT.
Awalnya, warga yang melihat mengira bahwa mamalia tersebut adalah seekor lumba-lumba. Namun, kepastian jenis hewan ini baru terungkap setelah tim dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL/Balai setempat) tiba di lokasi.
Tim yang turun ke lapangan terdiri dari:
Bapak Muhammad Hilmi (Ketua Tim Kerja Pelayanan Pemanfaatan)
Bapak Wiyudha (Ketua Tim Kerja Perlindungan dan Pelestarian)
Setelah melakukan pemeriksaan fisik, Bapak Wiyudha mengonfirmasi bahwa satwa tersebut adalah False Killer Whale. Dalam kesempatan tersebut, beliau memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa bangkai mamalia laut yang terdampar tidak boleh dikonsumsi karena alasan kesehatan dan keamanan hayati.
"Mamalia ini tidak boleh dikonsumsi. Kami mengimbau warga untuk selalu melapor jika menemukan kejadian serupa demi menjaga kelestarian ekosistem laut kita," ujar Bapak Wiyudha di lokasi.
Sebagai langkah penanganan sesuai prosedur konservasi, warga Desa Mata Air bersama-sama dengan petugas bahu-membahu melakukan proses penguburan bangkai paus tersebut di area pantai guna mencegah pencemaran lingkungan dan penyebaran aroma yang tidak sedap.
Laporan: Pemerintah Desa Mata Air Mari Jaga Laut Kita, Mari Jaga Desa Kita.